August 24, 2019
Bali

Release Single Baru, Kroncong Jancuk Semakin Menjadi

Sejak kemunculannya ditahun 2017, Kroncong Jancuk membawa angij segar bagi industri musik Bali yang belakangan terdengar monotone. Ditahun 2019 atau tepatnya pada 19 Januari 2019 band yang bermarkas di Denpasar ini merilis single ke-3 mereka yang bertajuk Genjek Boncos yang lengkap denfan clip videonya.

Gede Phaii sang frontman menyampaikan band yang ia bentuk pada 24 Desember itu mengatakan jika Kroncong Jancuk berani tampil neda ditengah keseragaman musik Bali lantaran merasa jenuh dengan gendre yang dimainkan oleh masing-masing personel. “Kami semua bukan pemain yang memiliki genre kroncong, namun kami ingin memainkan hal baru,”katanya.

Keroncong Jancuk sendiri mengusung genre Root Keroncong sebagai dasar mereka bermusik dan dikombinaskan dengan musik tradisi sehingga musik yang mereka tawarkan cukup fresh dan terdengar unik apalagi setiap penampilan mereka selalu menampilkan tari joged.

Genjek Boncos sendiri merupakan kisah yang diambil dari cerita sehari-hari dimana seorang lelaki yang ingin mengajak pasangannya untuk bercinta namun gagal, meski terdengar vulgar dalam lirik yang tertuang, Phaii selaku pencipta lagu menuangkan pesan yang mendalam. “Liriknya memang sedikit menggelitik namun pesan yang terkandung dalam lagu ini harga diri,”imbuh Phaii.

Dalam kesempatan itu pula dirinya sekaligus mengumumkan hengkangnya sang basis yang harus keluar karena sebuah faktor. Kabar tersebut pun dibenarkan oleh rekan satu bandnya. “Ini hal biasa dan kami menghargainya,”imbuhnya.

Konsep video clipnya sendiri dibuat berlatar belakang kerajaan yang dicampurkan dengan unsur kekinian seperti masuknya laptop dan jam tangan sehingga kesan nyentrik dan nabrak sangat jelas terlihat namun tidak menghilangkan unsur traditionalnya. “Sebenarnya ini awalnya dari kesalahan kecil kami saat shoot salah satu pemain ada yang masih memakai jam tangan dan tanpa pikir panjang ya kami sekalian saja hancurkan,”lanjutnya.

Disisi lain, menurut Gus Bajra Kroncong Jancuk sendiri adalah sebuah ungkapan rasa kagum. Terdiri dari dua kata yakni Kroncong yang diambil dari nama genrenya dan kata Jancuk diambil dari sudut pandang yang berbeda bukan mengumpat atau menghina, tetapi lebih ke sapaan keakraban, konon kata Jancuk lahir dari nama seorang seniman asal belanda ” Jan Cox” yang terkenal di Surabaya pada masa penjajahan Belanda, nama Jan Cox dituisi pada Tank milik Belanda, nama terserbut kemudian dipakai prajurit TKR untuk memberitahukan kedatangan musuh, sejarah tersebut menjadi dasar untuk menggunakan nama ” KRONCONG JANCUK”. “Inilah arti kata Kroncong Jancuk yang sebenarnya jika orang mengartikan berbeda ya kami luruskan sekarang,”pungkasnya sembari menyampaikan jika saat ini tengah mempersiapkan mini album.

Tidak hanya sisi musikalitas yang tampil beda, band yang digawangi oleh Gede Phaii (gitar,vokal), Sagung Diah(vokal), Eka John (drum), Gus Bajra (aerophone), Ngurah Godel (kendang sunda), Yoga Tomcat (ukulele cak), Eka Panjul (ukulele cuk), wegix oggiest (bass aditional) ini selalu tampil dengan joged disetiap penampilannya, bukan tanpa alasan mereka ingin mengubah dan mengembalika citra buruk tarian joged yang sempat tercoreng beberapa waktu lalu. ” Kami merasa sebagai orang Bali memiliki tanggungjawab untuk itu,”kata Phaii. (Red/Rls/Jek)

INIMUSIK.com didirikan sebagai wadah atau media informasi untuk mereka yang bergerak dibidang industri musik secara luas untuk perkembangan musik. selengkapnya klik https://inimusik.com/kenalan/
error: Content is protected !!