August 24, 2019
Event

Festival Tepi Sawah, Menyatu Dengan Alam

Gelaran ke-3 Festival Tepi Sawah cukup meriah. Sejak pagi kegiatan berlangsung antusiasme peserta dan pengunjung begitu jelas terlihat. Setiap sesi acara pun diikuti hingga akhir dan penuh kebahagiaan.

Memang dari tatanan panggung dan isi acara sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Festival yang berlangsung selama dua hari ini seakan kita belajar bagaimana alam menyediakan dan memanjakan penghuni bumi untuk seharusnya mensyukuri dan lebih bijak dalam bertindak.

Baca Juga: Berawal dari Iseng, Raflezia Siapkan Extended Play

Kesegaran udara dan suasana sekitar festival begitu merindukan untuk menunggu digelarnya kembali festival ini. Semakin mendekati malam, festival ini semakin meriah, terlebih saat sesi jamming yang diisi oleh berbagai artis lokal. Pembukannya sendiri berlangsung saat sore hari, acara dibuka dengan sambutan oleh Nita Aartsen, satu dari 3 founder Festival Tepi Sawah 2019.

Dalam sambutannya, dia menjelaskan dengan bahasa inggris konsep peformance di alam terbuka dengan melibatkan artis lokal. “This is a big thing, kita menggerakkan banyak komunitas lokal dengan nilai-nilai edukasi, lingkungan dan kebudayaan,” katanya dengan senyum merekah. Pembukaan ini diadakan di stage Uma jam 18.30.

Pembukaan pun dilanjutkan dengan kolaborasi antara Nita, Endah Laras, Woro, dan Gamelan Yuganada. Woro, sinden cilik kelahiran Semarang ini membuka dengan bernarasi dengan bahasa jawa mengenai Indonesia dengan keberagamannya yang dipunya. “Dengan keberagaman itulah, di era modern ini kita bisa menjadi lebih kuat, tentram dan saling menyayangi satu sama lain,” jelasnya.

Baca Juga: Empat Detik Sebelum Tidur, Elegi Perantau Kisah Di Balik Cerita

Penampilan pun dilanjutkan dengan nyanyian merdu dari Endah Laras yang membawakan lagu Di Bawah Sinar Purnama. Nyanyian tersebut diiringi oleh dentingan piano Nita Aartsen dan suara violin dari Celticroom Bali. Sebagai penutup sesi tersebut, Gamelan Yuganada menampilkan gamelan dan tari kecak khas Bali.

Saat ditanya tentang persiapan, Woro mengaku sudah datang ke Bali sejak dua hari yang lalu (4/7) dan menjalani latihan. “Dapat latihan hanya dua kali, check stage and sound, lalu perform hari ini,” katanya. Sabtu (6/7).

Pemilihan lagu baik untuk opening maupun sesi jamming pun disesuaikan dengan tema acara. “Kalau opening memang kesepakatan Tante Nita dan Mama Endah, kalau jamming kan disesuaikan dengan temanya yaitu Dolanan Jawa,” jelasnya.

Baca Juga: Mike Shinoda Konser di Jakarta, Ini Harga Tiketnya

Selama sesi jamming di stage Kubu, beberapa lagi yang dibawakan adalah Ilir-Ilir dan tembang dolanan dari Banyuwangi. Tak hanya opening dan sesi Dolanan Jawa, malam di Festival Tepi Sawah juga dimeriahkan oleh penampilan Jegog Suar Agung dan Tribute to Koes Plus dari semua artis.

Dalam sesinya, Jegog Suar Agung juga berinteraksi dengan penonton dan bersama-sama membentuk melodi lewat tepukan tangan diiringi tabuhan bumbung. (Red/Rls/Ton)

INIMUSIK.com didirikan sebagai wadah atau media informasi untuk mereka yang bergerak dibidang industri musik secara luas untuk perkembangan musik. selengkapnya klik https://inimusik.com/kenalan/
error: Content is protected !!