Jika Album ke-3 Tak Lahir Mungkin Slipknot Tinggal Kenangan

INIMUSIK.COM – Kesuksesan besar album Iowa pada tahun 2001 ternyata membawa konsekuensi berat bagi stabilitas internal Slipknot. Di balik topeng-topeng ikonik yang mereka kenakan, hubungan antar-personel justru berada di titik nadir. Kelelahan fisik dan mental yang luar biasa atau burnout memicu rentetan konflik personal yang nyaris membubarkan band asal Iowa, Amerika Serikat ini.
Ketegangan semakin memuncak ketika para personel mulai mengalihkan fokus pada proyek sampingan masing-masing. Corey Taylor dan Jim Root memilih untuk kembali menghidupkan band lama mereka, Stone Sour. Sementara itu, Joey Jordison menyalurkan kreativitasnya dengan bermain gitar untuk Murderdolls. Kesibukan di luar Slipknot ini membuat komunikasi antar-personel kian renggang dan visi mereka kian terpecah.
Masa Kelam di The Mansion
Memasuki tahun 2003, Slipknot mencoba bangkit dengan memulai proses rekaman album ketiga mereka yang bertajuk Vol. 3: (The Subliminal Verses). Mereka menunjuk Rick Rubin sebagai produser dan memilih sebuah rumah besar nan legendaris di Los Angeles bernama The Mansion sebagai lokasi rekaman. Namun, alih-alih membaik, suasana justru semakin kacau.
Corey Taylor saat itu sedang berjuang melawan kecanduan alkohol yang sangat parah. Kondisi tersebut menghambat efektivitasnya di studio karena ia kehilangan fokus total untuk melakukan rekaman. Corey bahkan memberikan pengakuan jujur bahwa rutinitasnya kala itu hanyalah menenggak alkohol sejak bangun tidur hingga pingsan kembali.
Situasi di dalam The Mansion terasa sangat dingin dan mencekam. Joey Jordison mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan mengenai relasi mereka di sana. Dari total enam bulan masa produksi, para personel sama sekali tidak saling tegur sapa selama tiga bulan pertama. Joey sempat merasa frustrasi dan menganggap mereka hanya sedang menghamburkan uang tanpa hasil yang jelas.
Peran Vital Rick Rubin dan Eksperimen Musik Baru
Titik balik Slipknot justru terjadi karena keterpaksaan. Keputusan untuk tetap tinggal di satu atap dan intensitas pertemuan yang tinggi secara perlahan mulai mencairkan suasana. Di sinilah peran Rick Rubin menjadi sangat krusial bagi keberlangsungan band. Rubin tidak sekadar bertindak sebagai produser musik, ia memposisikan diri sebagai mentor yang memaksa setiap personel keluar dari zona nyaman.
Di bawah bimbingan Rubin, Slipknot mulai berani melakukan eksplorasi yang belum pernah mereka jamah sebelumnya. Mereka mulai terbuka untuk melakukan eksperimen dengan instrumen gitar akustik dan menyisipkan melodi yang lebih rapi dalam komposisi lagu-lagu mereka.
Sentuhan eksperimental ini akhirnya melahirkan mahakarya album ketiga yang sangat berbeda dari pendahulunya. Proses rekaman Vol. 3: (The Subliminal Verses) terbukti menjadi penyelamat bagi karier musik mereka. Jika saja mereka tidak memutuskan untuk berkumpul kembali dan menghadapi konflik di studio saat itu, Slipknot dipastikan sudah membubarkan diri secara permanen.
***ikuti kami di Google News