Profil Guruh Soekarnoputra, Maestro Seni yang Meninggalkan Jejak Panjang di Indonesia

- Pendidikan dan Perjalanan Politik Guruh Soekarnoputra
- Guruh dan Kecintaannya pada Seni Indonesia
- Kolaborasi dengan Musisi dan Lahirnya Lagu-Lagu Ikonik
- Kiprah Guruh Soekarnoputra di Layar Lebar
- Pernikahan Guruh dengan Penari Uzbekistan
- Deretan Penghargaan untuk Guruh Soekarnoputra
- Warisan Guruh dalam Perjalanan Seni Tanah Air
INIMUSIK.COM – Nama Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra atau Guruh Soekarnoputra selama puluhan tahun lekat dengan dunia seni Indonesia. Putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati itu dikenal sebagai seniman dengan ketertarikan luas, mulai dari tari, musik, hingga seni pertunjukan.
Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada usia 73 tahun, Sabtu (26/9/2026). Ia mengembuskan napas terakhir pada pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta. Kondisi kesehatannya diketahui mengalami penurunan sejak sekitar satu tahun terakhir.
Kepergian Guruh meninggalkan catatan panjang dalam perjalanan kesenian Tanah Air. Ia menghasilkan karya musik, mengembangkan pertunjukan, terlibat dalam perfilman, hingga ikut memperkenalkan unsur budaya Indonesia melalui karya-karyanya.
Guruh merupakan adik Megawati Soekarnoputri, Presiden RI kelima. Kendati berasal dari keluarga yang memiliki sejarah besar dalam kehidupan politik Indonesia, perjalanan Guruh justru banyak diwarnai aktivitas di bidang seni.
Pendidikan dan Perjalanan Politik Guruh Soekarnoputra
Dunia pendidikan juga menjadi bagian dari perjalanan hidup Guruh. Pada 1971–1974, ia menempuh pendidikan Arkeologi di Universitas Amsterdam, Belanda. Pendidikan tersebut tidak sampai diselesaikannya.
Guruh kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia (STIAMI). Dari institusi tersebut, ia meraih gelar Sarjana Administrasi Publik, Magister Manajemen, serta Magister Sains bidang Ilmu Administrasi.
Selain berkarya di bidang seni, Guruh pernah mengambil bagian dalam kehidupan politik nasional. Ia menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur pada periode 1992–1997 melalui Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Karier politiknya berlanjut setelah era tersebut. Guruh kembali duduk di DPR RI melalui PDI Perjuangan sejak 1999 hingga 2024.
Keterlibatan di parlemen berjalan berdampingan dengan aktivitasnya sebagai seniman. Dua bidang tersebut menjadi bagian dari perjalanan Guruh selama bertahun-tahun di ruang publik Indonesia.
Guruh dan Kecintaannya pada Seni Indonesia
Bakat dan ketertarikan Guruh terhadap seni telah tumbuh sejak masa kanak-kanak. Tari menjadi salah satu bidang yang lebih dahulu ditekuninya. Seiring waktu, minat tersebut berkembang ke musik dan seni pertunjukan.
Guruh kemudian mendirikan kelompok kesenian Swara Mahardhika. Kelompok ini berkembang menjadi GSP Production atau Gencar Semarak Perkasa.
Lewat kelompok tersebut, Guruh mengembangkan pertunjukan dengan berbagai unsur yang saling berpadu. Tari, musik, tata panggung, dan tradisi Indonesia menjadi bagian dari konsep pertunjukan yang ia garap.
Karya-karya Guruh memperlihatkan perhatiannya terhadap kebudayaan Nusantara. Unsur tradisional ditempatkan dalam pertunjukan yang memiliki sentuhan modern sehingga menghasilkan bentuk kesenian dengan karakter tersendiri.
Salah satu tonggak penting dalam perjalanan musiknya hadir melalui Guruh Gipsy. Album tersebut dirilis pada 1977 dan lahir dari kerja sama Guruh dengan grup musik Gipsy.
Gipsy saat itu beranggotakan sejumlah nama yang kemudian dikenal sebagai musisi penting Indonesia, yakni Keenan Nasution, Chrisye, Abadi Soesman, Roni Harahap, dan Oding Nasution.
Konsep musik dalam proyek tersebut diarahkan oleh Guruh. Sementara itu, para personel Gipsy mengisi permainan musik dalam album tersebut.
Yang membuat Guruh Gipsy menonjol adalah pertemuan antara musik rock dengan unsur musik tradisional Jawa dan Bali. Perpaduan itu menghasilkan warna musik yang berbeda dan kemudian membuat album tersebut mendapat perhatian dalam sejarah musik Indonesia.
Pada 2007, Rolling Stone Indonesia menempatkan Guruh Gipsy sebagai album Indonesia terbaik kedua sepanjang masa.
Kolaborasi dengan Musisi dan Lahirnya Lagu-Lagu Ikonik
Eksplorasi Guruh dalam musik tidak berhenti melalui Guruh Gipsy. Ia juga terlibat dalam Gank Pegangsaan bersama sejumlah musisi, seperti Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari perkembangan kreativitas Guruh dalam mengolah musik. Pengaruh musik modern bertemu dengan kekayaan budaya Indonesia dan menghasilkan karakter yang menjadi ciri dalam sejumlah karyanya.
Beberapa lagu ciptaannya kemudian dikenal luas dan bertahan sebagai karya yang terus didengarkan. Salah satu yang paling populer adalah “Kala Cinta Menggoda” yang dipopulerkan oleh Chrisye.
Karya tersebut membawa Guruh memperoleh penghargaan Pencipta Lagu Pop Terbaik dalam Anugerah Musik Indonesia 1998.
Nama Guruh kembali bersentuhan dengan pendengar generasi muda melalui “Kala Sang Surya Tenggelam”. Lagu tersebut digunakan dalam serial Gadis Kretek pada 2023 sehingga kembali terdengar di tengah perkembangan industri hiburan masa kini.
Kemunculan lagu tersebut dalam serial yang dinikmati generasi baru memperlihatkan panjangnya usia karya Guruh. Lagu yang telah lahir jauh sebelumnya kembali mendapatkan ruang di tengah pendengar dari kelompok usia yang berbeda.
Kiprah Guruh Soekarnoputra di Layar Lebar
Karya Guruh tidak hanya hadir melalui panggung pertunjukan dan musik. Ia juga terlibat dalam industri film Indonesia.
Sejumlah film pernah menggunakan keterampilannya sebagai penata musik, di antaranya Ali Topan Anak Jalanan, Gita Cinta dari SMA, dan Roman Picisan.
Pengalamannya di dunia perfilman juga mencakup peran sebagai aktor. Guruh pernah tampil dalam film Sembilan Wali dan Untukmu Indonesiaku.
Keterlibatan tersebut memperlihatkan luasnya ruang berkesenian yang dijalani Guruh. Musik, tari, pertunjukan, dan film menjadi bagian dari perjalanan kreatif yang membentuk namanya sebagai salah satu seniman Indonesia.
Pernikahan Guruh dengan Penari Uzbekistan
Kecintaan Guruh terhadap seni juga berkaitan dengan kehidupan pribadinya. Pada 2002, ia menikah dengan Guseynova Sabina Padmavati, seorang penari asal Uzbekistan.
Pernikahan tersebut berlangsung selama tujuh tahun sebelum akhirnya berakhir. Hubungan Guruh dengan dunia tari menjadi salah satu bagian yang turut mewarnai perjalanan hidupnya, termasuk ketika ia membangun kehidupan bersama seorang seniman dari negara lain.
Deretan Penghargaan untuk Guruh Soekarnoputra
Puluhan tahun berkarya membawa Guruh memperoleh sejumlah penghargaan. Salah satu pengakuan datang pada 1998 ketika ia menerima Pencipta Lagu Pop Terbaik dalam Anugerah Musik Indonesia.
Penghargaan berikutnya hadir pada 2010 melalui Lifetime Achievement Award. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap perjalanan panjang Guruh dalam dunia musik dan seni.
Setahun kemudian, Guruh kembali memperoleh penghargaan. Pada 23 Maret 2011, bertepatan dengan peringatan Hari Musik Nasional, ia menerima Nugraha Bhakti Musik Indonesia dari Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI).
Pengakuan terhadap kiprahnya juga datang dari Rolling Stone Indonesia. Pada 2008, nama Guruh masuk dalam daftar The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa.
Berbagai penghargaan tersebut menjadi bagian dari rekam jejak Guruh sebagai seniman yang berkarya dalam banyak bidang. Musik menjadi salah satu ruang terbesarnya, tetapi perjalanan keseniannya juga mencakup tari dan seni pertunjukan.
Warisan Guruh dalam Perjalanan Seni Tanah Air
Guruh Soekarnoputra meninggalkan karya yang membentang dalam rentang waktu panjang. Dari panggung seni hingga rekaman musik, ia konsisten membawa ketertarikannya terhadap kebudayaan Indonesia ke dalam karya-karyanya.
Guruh Gipsy menjadi salah satu karya yang menandai keberaniannya mempertemukan musik modern dengan unsur tradisional. Lagu-lagu ciptaannya kemudian memperpanjang jejak tersebut melalui karya yang dikenal luas oleh masyarakat.
Penggunaan kembali “Kala Sang Surya Tenggelam” dalam Gadis Kretek pada 2023 menjadi salah satu contoh bagaimana karya lama dapat kembali hadir di tengah generasi yang berbeda. Karya Guruh terus menemukan pendengar melalui perkembangan zaman dan medium hiburan yang berubah.
Selama puluhan tahun, Guruh hadir dalam berbagai peran: penari, pencipta lagu, musisi, penata musik, penggagas seni pertunjukan, hingga politikus. Seluruh perjalanan tersebut menjadi bagian dari kisah seorang seniman yang memiliki perhatian besar terhadap musik dan kebudayaan Indonesia.
Indonesia kini kehilangan salah satu tokoh seni yang telah memberi warna pada perjalanan musik dan seni pertunjukan Tanah Air. Karya-karyanya menjadi bagian dari perjalanan budaya yang telah melewati beberapa generasi.
***ikuti kami di Google News