3 Karya Legendari Guruh Soekarnoputra yang Hingga Kini Masih Dinyanyikan

INIMUSIK.COM – Dunia seni Indonesia kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruhnya. Guruh Soekarnoputra tutup usia pada Sabtu, 26 September 2026, dalam usia 73 tahun di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta.
Kepergian putra bungsu Bung Karno dan Fatmawati ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar PDI Perjuangan serta seluruh pencinta seni tanah air.
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengonfirmasi kabar duka tersebut langsung dari rumah duka. PDI Perjuangan kehilangan sosok kader sekaligus seniman yang mendedikasikan hidupnya untuk kebudayaan nasional.
Perjalanan hidup Guruh diisi dengan konsistensi tinggi dalam memadukan elemen tradisional nusantara dengan warna musik modern.
Pengamat musik dan pelaku industri mengenalnya sebagai kreator yang tidak pernah kehabisan gagasan segar. Dari pementasan kolosal hingga album eksperimental, jejak langkahnya membentuk fondasi estetika pop progresif Indonesia.
Mahakarya Musik Lintas Generasi
Kontribusi Guruh dalam penciptaan lagu mencatatkan sejarah panjang yang masih dinikmati hingga hari ini. Pendekatan lirik yang puitis berpadu dengan aransemen megah menjadi ciri khas yang sulit ditiru.
- Kala Sang Surya Tenggelam: Lahir dari tangan dingin Guruh, lagu ini pertama kali dibawakan oleh Dhenok Wahyudi untuk film Ali Topan Anak Jalanan pada tahun 1977. Aransemen ulang oleh Chrisye dalam album Sabda Alam (1978) melambungkan nomor ini ke tangga abadi. Puluhan tahun berselang, Nadin Amizah kembali memperkenalkan karya ini kepada pendengar muda lewat serial Netflix Gadis Kretek.
- Galih dan Ratna: Karakter fiksi ciptaan Teguh Esha menemukan nyawa sinematiknya melalui lagu ini. Pertama kali diluncurkan untuk film Gita Cinta dari SMA (1979) dan kemudian direkam ulang oleh Chrisye untuk sekuelnya, Puspa Indah Taman Hati, lagu ini telanjur melekat sebagai hymne percintaan remaja dekade tersebut.
- Mahadaya Cinta: Dirilis pada tahun 2004 melalui vokal kuat Kris Dayanti dalam album Cahaya, lagu ini memperlihatkan kapasitas Guruh dalam meramu tema spiritualitas cinta manusia dengan skala orkestrasi yang masif.
Perintis Eksperimen Musik dan Pertunjukan Kolosal
Langkah kreatif Guruh melampaui batas-batas penciptaan lagu pop konvensional. Pada tahun 1977, ia menggagas pembentukan Guruh Gipsy bersama musisi-musisi ulung seperti Keenan Nasution, Chrisye, Abadi Soesman, Roni Harahap, dan Oding Nasution. Album self-titled mereka mencetak sejarah penting ketika majalah Rolling Stones Indonesia pada tahun 2007 menobatkannya sebagai album Indonesia terbaik kedua sepanjang masa. Pemilahan instrumen rok progresif bergaya Inggris yang dilebur mulus dengan gamelan Bali dan Jawa menempatkan karya ini pada posisi yang unik.
Konsistensi dalam mengolah seni pertunjukan juga terlihat dari pendirian kelompok kesenian Swara Mahardhika dan rumah produksi GSP Production. Melalui wadah ini, Guruh mementaskan berbagai pergelaran kolosal yang mempertemukan koreografi tari tradisional nusantara dengan teknik tata panggung modern. Dedikasi tanpa kompromi ini memastikan bahwa warisan estetika Guruh Soekarnoputra akan terus hidup dalam sanubari kebudayaan Indonesia.
***ikuti kami di Google News