Lolot Rilis EP Tajir Melintir, 24 Tahun Berkarya 11 Album Sekali Bongkar Muatan

INIMUSIK.COM – Lolot mengukuhkan diri sebagai satu-satunya band rock berbahasa Bali yang tembus hingga 11 album setidaknya hingga April 2026.
Pun hal ini ditegaskan oleh Made Adnyana selaku wartawan senior sekaligus pengamat musik mengiakan hal tersebut saat dikonfirmasi inimusik.
Rabu, 1 April 2026 menjadi waktu peluncuran (EP) mini album ke-11 Lolot yang berjudul Tajir Melintir. Memuat 6 lagu dengan hits single Tajir Melintir yang sebelumnya sudah dirilis pada 21 Maret 2026.
Lagu ini mengisahkan tentang seorang lelaki yang mendapatkan perlakuan kurang baik oleh wanita idamannya.
Namun ia berjanji untuk membuktikan bahwa ia mampu menjadi sukses dan jika sudah terwujud wanita yang tadi bukan lagi menjadi pilihan.
Lanang menyampaikan bahwa pengerjaan album ini selama 2 bulan atau Januari – Maret 2026 dan memang awal tahun ini mereka gunakan untuk fokus pada album.
“Jadi kebetulan bulan itu sedang slow juga durasi manggung yang masih senggang makanya kita fokus untuk garap,” sebutnya dalam sesi jumpa perss pada Rabu, 1 April 2026.
Sempat Ingin Berhenti Sampai Album ke-10
Setelah 4 tahun vakum dari rilis album atau karya akhirnya atas desakan penggemar akhirnya mereka masuk dapur rekaman lagi.
“Maunya sampai album 10 saja tapi karena desakan dan atas pertimbangan eksistensi maka kami wujudkan album ini,” imbuh Made Bawa.
Untuk materi masih seputar cinta yang bukan sebatas rayuan dan motivasi namun juga tentang isu sosial budaya hingga persahabatan.
Dewi Supraba yang ada dalam sampul album diambil dari cerita fiktif dan juga memang ada lagu di album ini. “Di sini saya menceritakan bahwa setiap lelaki pasti mendambakan pasangan yang sempurna,” tutur Made Bawa.
Silih-silih Kambing menjadi lagu yang pertama dibuatkan video klipnya sedangkan lagu yang pertama kali dirilis adalah Tajir Melintir.
Sepsial dalam Album Tajir Melintir
Lanang menuturkan tentang yang spesial di mini album ini, dimana mereka mengerjakan bareng tidak seperti album sebelumnya yang terkesan mencar. “Jadi ini seperti buat album pertama,” tutur Lanang.
Awalnya materi yang dipilih hanya 5 lalu akhirnya menjadi 6 memang sengaja saja karena porsinya sudah pas. “Lebih pripit (minimal) tapi maksimal baik saat didengar atau saat konser,” ucapnya lagi.
Terkait adanya rilisan fisik, pria berdarah Buleleng ini dengan santai berkata bahwa itu bukti karya mereka. “Kenapa masih cetak CD untuk bukti dan koleksi saja agar bisa dikumpulkan saja,” lanjutnya.
Dilain sisi Hendra sang penggebuk drum menjelaskan bahwa harga dari CD itu hanya 50k dan itu juga dicetak terbatas hanya 200 keping saja. “Dan semoga ke depan pilihannya bisa wujudkan Vinyl,” sambung Hendra.
Masukkan Lagu Indonesia
Yang menarik lagi, disini Lolot memasukkan lagu Indonesia karena iseng aja, beberapa album sebelumnya juga ada yang memuat materi lagu berbahasa Indonesia. “Ya iseng aja biar skup nasional juga bisa lebih memahami karena sebelumnya mereka mungkin hanya menebak lirik,” papar Made Bawa.
Kenapa Silih-Silih Kambing yang pertama dibuatkan video klip? Ini karena hasil voting dan jug realitas sekarang yang lebih mengena. “Lagu ini sepertinya semua orang pernah mengalaminya,” tutup Lanang.
Perjalanan Lolot Selama 24 Tahun
Gebrakan Lolot di industri musik dimulai pada tahun 2002 melalui album debut bertajuk Gumine Mangkin. Sejak saat itu, nama mereka langsung meroket dan mendapatkan tempat khusus di hati para pecinta lagu Bali. Kehadiran mereka membawa angin segar dengan genre rock yang menggunakan lirik bahasa lokal secara konsisten.
Momen bersejarah bagi band ini tercatat pada tahun 2005. Saat itu, formasi Lolot diperkuat oleh Made Bawa pada vokal, Deny di posisi drum, Lanang pada bass, dan Doni sebagai gitaris. Prestasi mereka mencapai puncaknya ketika berhasil menembus kancah nasional dengan meraih penghargaan dalam ajang SCTV Musik Awards untuk kategori jalur indie. Pencapaian ini sangat fenomenal karena Lolot merupakan satu-satunya band berbahasa Bali yang mampu memenangkan penghargaan bergengsi tersebut di tingkat pusat.
Dinamika Hiatus dan Proyek Sampingan
Perjalanan karier Lolot tidak selamanya berjalan mulus. Setelah sukses merilis lima album, grup ini sempat memutuskan untuk hiatus selama kurang lebih satu tahun. Masa vakum ini memicu berbagai spekulasi di tengah publik. Pihak produser sempat menyebutkan bahwa Made Bawa mengalami kelelahan, namun banyak isu lain yang beredar tanpa kepastian yang jelas.
Selama masa istirahat tersebut, para personel tetap aktif berkarya melalui proyek idealis masing-masing:
- Doni, Lanang, dan Deni berkolaborasi dengan Bobby (mantan vokalis Double T) untuk membentuk Rockavatar.
- Lanang memilih menempuh jalur solo dengan proyek Mr. Botax.
- Deni kemudian bergabung dengan grup musik Dialog Dini Hari.
- Doni sempat mendirikan band baru yang diberi nama Marco.
Momentum Kebangkitan dan Formasi Baru
Kerinduan penggemar akhirnya terobati pada tahun 2009. Kabar kembalinya Lolot ke panggung musik terbukti lewat peluncuran album Pejalan Hidup. Momentum ini menjadi titik balik penting, di mana mereka tidak hanya sekadar merilis karya baru, tetapi juga memperkenalkan Hendra sebagai personel tetap yang mengisi formasi Lolot hingga saat ini.
Eksistensi Lolot sebagai ikon rock Bali semakin dipertegas pada tahun 2014. Mereka mengukir prestasi langka dengan menjadi satu-satunya band berbahasa Bali yang menyelenggarakan peluncuran album di Hard Rock Cafe Bali. Keberhasilan tersebut bahkan diabadikan melalui pemajangan sebuah gitar ikonik yang menjadi simbol pengakuan atas kontribusi besar mereka bagi perkembangan musik di Pulau Dewata.
Adapun 11 album Lolot
Gumine Mangkin (2003) dengan toral 9 lagu,
Bali Rock Alternatif (2004) dengan total 10 lagu,
Meong Garong (2005) dengan 10 lagu,
The Best of Lolo (2006) memuat 11 lagu,
Saling Caplok (2007) dengan total 10 lagu,
Pejalan Hidup (2009) memuat 13 lagu,
Nyujuh Langit (2014) memuat 15 lagu,
Manusa Raksasa (2017) memuat 13 lagu,
Semeton Bali (2019) memuat 9 lagu,
Bali Metangi (2022) memuat 8 lagu,
Tajir Melintir (2026) memuat 6 lagu.
ikuti kami di Google News