Rollfast Lepas Pajeromon, Kritik Isu Sosial?

 Rollfast Lepas Pajeromon, Kritik Isu Sosial?

Rollfast/foto by istimewa/ Inimusik

Digiqole ad

Rollfast akhirnya melepas single teranyarnya “Pajoromon” melalui platform digital. Single berdurasi 3 menit 4 detik itu pun saat ini baru dilengkapi dengan video lyric saja.

Band penganut aliran psychedelic rock itu digawangi oleh Agha Praditya, Arya Triandana dan Bayu Krisna berupaya untuk merefleksi atas kenyataan sosial. Salah satunya toxic masculinity. 

Penuturan Agha, saat ditemui belum lama ini, kata Pajeromon menujur pada makna monster fiksi yang diciptakan berdasarkan referensi dari serial anime digital monster. Selain itu, nama “Pajeromon” merupakan bagian dari nama mobil pajero yang menginterpretasi maskulinitas/ kemapanan dan monster.

Baca Juga:  DR oTw Rilis Single Realita Sales Rock n Roll, Album ke-2 Sudah Rampung

Lebih lanut disampaikan, di Bali kata “Jero” merupakan titel/ labeling yang ditujukkan kepada seseorang yang memiliki tanggung jawab moral dalam pelayanan sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia spiritual). ‘Romon’ berarti kotor dalam bahasa Bali.

“Tidak bermaksud kritis tapi ini lebih ke observasi terhadap hal tertentu yang kami pun masih sangat menyadari sering melakukannya,”sambungnya.

Dengan lirik yang kritis, Pajeromon juga divisualisasikan dengan video klip amimasi tiga dimensi nan surealis. Sosok fiktif manusia kadal dengan bertubuh kekar menjadi tokoh utama dalam video klip itu. Agaknya, kemapanan materil serta maskulinitas, acap kali menjadikan seorang sebagai sosok

Baca Juga:  DMBP Rilis Single Terakhir, Mereka Bubar?

“predator” yang suka berburu mangsa. Barangkali ini yang berusaha diabstraksikan oleh trio psychedelic itu. Terlebih dalam video klipnya si manusia kadal bertingkah layaknya predator yang menyisir  “wanita sexy” sebagai mangsa.

Yang unik dari lagu ini terdapat penggalan lirik berbunyi “Menjelma binatang di lantai mangsa, mengkristalkan hasrat kuasa ereksi maskulinnya”,  sarat akan kritikan terhadap fenomena yang sering ditemui dalam kehidupan modern.

Baca Juga:  Keresahan di Ujung Karya Chalie Said

Selain itu, pada penggalan, “hukum rimba lantai dansa, kuku bima haus mangsa” menjadi anekdot sarkas terhadap budaya pop.

Musik pajeromon dibalut dengan sentuhan teckno ala musik noise sub kultur. Berbeda dengan lagu-lagu sebelumya, agaknya Rollfast mengekplorasi penuh terhadap warna musik lain tanpa meninggalkan sisi psychedelic-nya. “Single ini sebetulnya sudah ada draftnya di 2017 lalu. Cuma 2019 di dekonstruksi lagi.”paparnya.

Sedangkan untuk draft video nya sudah ada sejak tiga bulan lalu. “Memang waktunya lama habis untuk mikirin ini aja,”pungkasnya. (Red/Dhi/Bhi/IMC)

Digiqole ad