Matanai Suarakan Persatuan di Album “Saling Gisi”

 Matanai Suarakan Persatuan di Album “Saling Gisi”

Matanai Band/ inimusik

Digiqole ad

Band reggae asal Bali, Matanai merilis album ke-2 mereka yang bertajuk “Saling Gisi”. Album terbarunya itu akan dirayakan dengan sebuah pertunjukan musik di Pantai Muara, Tangtu – Denpasar bertepatan dengan Valentine Jumat, 14 Februari 2020.

Banyak pesan yang diselipkan dalam album terbarunya itu, mulai dari isu sosial hingga percintaan. Begitupun dengan unsur musik yang menurut mereka lebih kaya dan fresh. “Pada album ini kami mencoba untuk menyerukan semangat kebersamaan, perlunya persatuan dalam keberagaman, semua bergandengan tangan, saling gisi untuk menuju kebaikan semua,”kata Tut Tantu sang vocalis dalam sesi jumpa perss di kawasan Gianyar. Rabu (13/2/2020).

Baca Juga:  Calinn Rilis Happy/Sad, Kisah yang Berkaitan?

Tidak saja dari materi, bahkan dari sampul albumnya pun sudah menyiratkan pesan moral terkait kondisi Bali dan Indonesia pada umumnya yang tengah dirundung berbagai permasalahan yang rentan akan perpecahan.

“Secara simbolis bermakna persatuan, melihat kondisi bangsa kita yang belakangan ini menghadapi konflik berbau SARA, juga konflik politik yang mengancam persatuan bangsa. Kita memiliki keterikatan, kebersamaan, kita tidak bisa hidup sendiri,”sambungnya.

Baca Juga:  Mendengar Menu Baru di Album ke-7 Joni Agung & Double T

“Saling Gisi” jika dialih bahasakan berarti “Saling Pegang”.  Untuk jumlah produksi, album itu dicetak sangat terbatas yakni hanya 25 keping dan memuat 9 lagu, 5 lagu berbahasa Indonesia dan 4 lagu berbahasa Bali.

Matanai sendiri resmi terbentuk 2012 dengan personel Tut Tantu (vokal), Kadir (gitar), Herman (gitar), Parat (bass), Agus Tyson (drum) serta Lelut (keyboard). Kemudian pada tahun 2014 mereka merilis album pertama “Rencana Tuhan”. “Setelah itu kami hanya rilis single saja dan tahun 2020 ini, baru rilis album lagi,”tambahnya.

Baca Juga:  JR17 Band, Lagu Ini Seperti Dua Mata Pisau

Terkait rentang waktu peluncuran album, menurut Tyson karena alasan kesibukan dari masing-masing personel yang di luar bermusik memiliki pekerjaan utama. “Kami tak memiliki target dalam bermusik, ada ide kita koordinasikan lalu garap bersama. Musik ini bagi kami tempat untuk refresh dan keluarga kedua kami,”tutupnya. (Red/Pra/IMC)

Digiqole ad